Laki-laki di bulan May(be) I’m in Love

Satu semester berlalu, dan aku masih menyimpan degup kencang ini di jantungku Entah apa yang membuatku selalu gemetar untuk menyapanya, l...

Satu semester berlalu, dan aku masih menyimpan degup kencang ini di jantungku
Entah apa yang membuatku selalu gemetar untuk menyapanya, lalu kehilangan suara di tenggorokan kala dia yang menyapaku duluan, kemudian membuatku berteriak seraya memeluk temanku satu persatu setelahnya...

Si laki-laki di bulan Mei ku tahun ini, si penganggu yang selalu hadir di setiap pikiranku, bahkan beberapa kali wujudnya ikut hadir dalam mimpiku...

Aku tahu dia baik, aku tahu dia tidak membosankan, aku tahu dia menyukai Kahitna, aku tahu dia pemalu, aku tahu sering kali ia memalingkan wajahnya, dan aku tahu aku menyukainya...

“Berawal dari mata, indahnya senyuman. Berawal tatap mata, hangatnya sapamu”
-Kahitna

Aku pernah mencoba melupakan laki-laki ini, berharap semua gunungan harapan di diriku hilang untuknya, ketika hampir berhasil...

“D.....”

Hanya dengan memanggil namaku, dia tumbuhkan kembali. Menumbuhkan sesuatu yang nyaris layu dan mati di hatiku,
ah...
selalu saja dia berhasil membuat diriku berteriak dan makin tersiksa karena hanya bisa mengaguminya dalam diam.

Aku tak tahu harus melangkah kemana lagi untuk menemukan sebuah jalan, aku juga tak tahu harus terus maju atau mundur lagi, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kamu selalu ada bersamaku, bahkan aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, jika dia sampai tahu kalau aku menyukainya...
mungkin akan ada guncangan hebat!
di hati sekaligus hidupku.




Bak hujan sore yang datang dan selalu meneduhkan bumi, itu pula yang aku rasakan ketika tanpa sengaja kami berpapasan di tiap-tiap koridor kampus...

Aku suka caramu memanggil namaku kala aku menunduk, aku suka tatapan matamu yang melengos kala aku yang menyapamu, aku suka kala kita sama-sama bungkam dan hanya saling melihat dari mata, aku suka caramu membalas pesan singkatku, aku suka memikirkanmu semua tentang dirimu...

Aku memang belum mengenal pria Mei ini, aku hanya tahu namanya. Hanya itu. Oh ya... dan daerah rumahnya. Ya... hanya itu saja.

Dia... sepertinya dia hanya mengetahui namaku saja.

Setidaknya, cinta  dalam bungkam ini tak lebih menyakitkan dari cinta pada bayangan. Aku tahu wujudnya ada, ketika kami bertemu. Walau memang ketika aku di rumah dan berhalusinasi menjadi pasangannya, aku seperti mencintai sebuah bayangan semu yang tak dapat ku rasakan genggamannya.


Tuhan...
katakanlah padaku, jika dia bukanlah hal yang tak mungkin...

picts by: we❤it

You Might Also Like

0 komentar