Let's Call it Coming Soon

Drama macam ini, bertemu, memikirkan siang malam, malu mengaku jatuh cinta tapi ternyata tidak bisa luput memikirkannya, lalu menangis, men...

Drama macam ini, bertemu, memikirkan siang malam, malu mengaku jatuh cinta tapi ternyata tidak bisa luput memikirkannya, lalu menangis, menunggu, menunggu lagi, memikirkannya lagi, senang, lalu sedih lagi hingga pada akhirnya tiba di kenyataan bahwa, dia mengetahui keanehan apa yang sebenarnya telah terjadi selama ini.

Ini dia! inilah hal yang tak pernah ditunggu namun selalu dibayangkan akan menjadi apa,
saya tiba pada moment dimana dia mengetahui semua rahasia yang selama ini saya tutupi.
Sebenarnya selama ini dibilang menutupi pun tidak, sesekali saya menunjukkan bahwa saya sadar kalau kehadirannya ada ketika kami sedang berada di satu scene. Saya menyapanya, mencoba membuka topik, hingga beberapa kali membuat kesan dia tetap tidak luput dari pikiran ini ketika kami sudah tidak bertemu, ya... kala saya kirimkan dia sebuah pesan singkat.

Walau semuanya terasa begitu drama, tidak pernah berlaku kata akting untuk menyayangi seseorang. Apalagi untuk keberlangsungan hidup detak jantung saya yang selalu kumat saat ada dia, saya lakukan ini tanpa embel-embel wujud script dan editing dari atau dibuat oleh seseorang. Meskipun memang, semua yang saya lakukan ketika sedang tidak berada didalam adegan yang sama dengan dia, saya berlatih dan meminta teman-teman yang lain menjadi sutradaranya. Memastikan lagi, apakah senyum seperti ini terlalu palsu, apakah dialognya berlebihan, apakah tadi tingkah laku ada yang kurang, ada yang harus dirubah, atau..... ah... banyak! Terkadang saya merasa ada yang salah dan kurang saat bertemu dengannya, entah apa.
Saya tahu ini bukan panggung theatre, tapi saya tahu akan selalu ada ‘penonton’ kala kita berinteraksi.

Sampai hari ini ‘kisah’ kami belum tayang. Bukan, bukannya tidak layak tayang, hanya saja rasanya ada yang perlu diperbaiki. Kita kurang dalam bersama, ummm... maksudnya dalam latihan bersama untuk menyajikan lakon di depan penonton kita. Kita masih terlihat seperti saling kaku satu sama lain, belum ada tek tok yang enak dilihat oleh ia yang melihat kita bercakap. Sampai sekarang penonton masih ada yang bingung, bahkan di beberapa kesempatan ada yang bertanya,
“Kamu yakin dia lawan main kamu?”
Kita bertemu bukan karena tiba-tiba, bukan? Sang Produser betul-betul jeli mengurus pertemuan ini, Allah SWT. Ketika Sang Produser saja yakin akan pertemuan kita dalam beberapa adegan, untuk apa ada ragu bahwa kita tidak bisa menjadi pemain hebat untuk-Nya, dalam cerita baru yang telah Beliau susun dengan script rahasia-Nya.

Teruntuk lawan mainku saat ini,

Mungkin, akan ada beberapa list adegan lagi yang hendak kita laksanakan kedepannya. Karena script itu tidak diberikan Produser, aku hanya berharap cerita ini akan menjadi cerita tanpa akhir namun akan selalu ada kejadian manis, yang tidak akan pernah bisa kita lupakan satu sama lain di setiap scene-Nya.

Aku, aku hanya selalu menunggu kapan kita dipertemukan lagi oleh Produser untuk itu, namun yang pasti sebelum hari itu datang, aku akan selalu belajar menjadi seseorang yang tepat untuk disandingkan dengan lawan mainku, agar nantinya jika kisah kita benar-benar “Tayang”, penonton akan menyukai kisah kita yang sesungguhnya.


Dari lawan mainmu. 

You Might Also Like

0 komentar