Tiga yang Ingin Dua

Aku tak pernah bilang kalau ini semua akan mustahil, tapi sedari awal kecurigaan itu sebenarnya menghantuiku. Bergema dalam kepala, dan se...

Aku tak pernah bilang kalau ini semua akan mustahil, tapi sedari awal kecurigaan itu sebenarnya menghantuiku.

Bergema dalam kepala, dan selalu menarik untuk mengurungkan niatku,  "lancang!" katanya.

Katakan padaku, dimana aku harus temukan alasan untuk tetap bisa bertahan kalau aku tahu, alasan itu sebenarnya telah ada di hadapanku selalu.

Kamu berlalu, tak membawa apa-apa, tapi nyatanya kau meninggalkan luka pahit. "Siapa kini yang lancang?"

Sedari awal aku tak pernah berniat ada di antara siapapun, aku juga tak pernah ingin berharap bisa mengisi sedikit saja celah, jika memang ada. Tidak, aku tak pernah berdoa untuk itu.

Kesendirianmu lah yang membuatku berani untuk lancang mencintai seseorang yang aku tahu sedang menyukai seseorang  lainnya. Tapi bagiku, kau masih sendiri, apa aku salah?

Ternyata aku benar salah. Kesalahan terbesar untuk tidak mengurungkan niat dari awal.

Kamu menyatakannya. Hal yang aku tunggu namun kau beri pada orang lain. Iya, aku tahu aku memang salah.
Tinggalah semuanya, mungkin suatu hari nanti semua ini akan menjadi lumut pada dinding-dinding hati yang tak lagi diberi cahaya olehmu.

You Might Also Like

0 komentar