What you expect when you know there's no answer

Ternyata keresahanku selama ini datang menampar, Perandaian kabahagiaan tentangnya yang selama ini selalu aku impikan, dari terbitnya faj...

Ternyata keresahanku selama ini datang menampar,
Perandaian kabahagiaan tentangnya yang selama ini selalu aku impikan, dari terbitnya fajar hingga redupnya bintang malam, berujung pada jurang yang lagi-lagi harus aku yang terjatuh sendirian.

Aku tidak mau sebut ini patah hati, rasanya sudah terlalu sering aku menyebutnya, dan untuk menilai ini adalah sebuah patah hati lagi, ku kira seluruh dunia pun sudah bosan mendengarnya.

Tapi apa namanya untuk menyebut sesak atas kepergian seseorang yang belum sempat Anda miliki?

Dalam beberapa cerita aku diperkenalkan pada kata pupus. Tentu tidak, aku selalu percaya kisah ku tidak sesedih itu karena aku yakin pada hatinya yang tetap akan disana dan suatu hari berbalik,
Nyatanya, hatinya memang berbalik, hanya saja bukan ke arahku, tapi ke arah wanita lain yang ternyata sudah lama mencuri hatinya.
Seperti sesak, tak bisa bicara, tak memiliki kata.




Dia hadir di hapanku lalu pergi begitu saja tanpa ku lihat lagi,
Aku hampir kehilangan arah, walau dari awal aku keras kepala tetap ingin dirinya, aku kini benar-benar tak lagi melihat jalan terang untuk sampai pada tempat dimana mulanya aku berada dan mengikutinya, aku sudah terlalu jauh, tersesat, bahkan hingga tidak bisa lagi menemukannya, ya.... mungkin tidak akan lagi.

Bulan demi bulan sudah kita lewati,
Kita sampai pada hal dimana kamu mencoba menerjemahkan apa yang selama ini terjadi antara kita berdua,
Ada aku yang mencoba membantumu di kegundahan itu,
Kini tak mungkin lagi kau tidak tahu bahwa ada yang ku simpan sejak pertemuan kita,
Lalu aku diam di perjalananku, ku pikir kamu memerlukan waktu untuk dirimu sendiri,
Nyatanya, aku salah...

Aku terbangun mendapati pesan. Pesan yang tiba-tiba membuat air mata pertama jatuh dan mengalir untuk orang yang sedang  ku tunggu di muara perandaian,
Untuk sebuah nama yang selama ini ada di hidupku, ternyata raib...
Dia raib tidak hanya dari pandanganku, sekaligus dari hidpuku,
Dia meminta hatinya kembali pada seseorang disana yang selama ini telah mengambilnya,
Bahkan disaat aku belum sempat meminta dirinya mengembalikan hatiku yang sudah dia ambil sejak pandangan pertamanya di pertemuan kami,

Disaat aku sibuk merangkai namanya, dia sibuk dengan nama lain pada langit di setiap malamnya,
Disaat aku sibuk menunggu-nunggu pertemuan selanjutnya, dia sibuk menghubungi nama lain,
Disaat aku sibuk mengharapkannya, dia pun sibuk mengharapkan hati yang lain.
Tak ada maaf untuknya,
Karena memang dia tidak salah,
Pun wanita yang di seberang sana,
Harapan ini juga bukanlah suatu kesalahan,
Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang perlu disalahkan, jadi untuk apa harus ada kata sesal?
Salah satu teman ku berkata,
"Sama seperti hatimu, kamu tidak bisa memilih untuk menaruh hatimu kepada siapa. Perasaan... tiba-tiba perasaan itu jatuh begitu saja pada dirimu, bukan? Itu pula yang kini terjadi dengannya.”
Harapan tinggalah harapan, hilang begitu saja tanpa pernah tahu apa jawabannya,
Jika memang hanya sampai disini takdir kita, pastilah ini waktu yang tepat untuk berpisah,

Sampai kapanpun, ombak yang melaju dan bertemu dengan daratan baru akan selalu melupakan daratan dan meyakini dirinya untuk kembali pada laut, hal yang selama ini telah ia lalui sebelum bertemu dengan pasir di pantai..




picts by: we❤it

You Might Also Like

0 komentar