Cerita di Sabtu tengah Hari

Temu pandang di udara untuk bertukar sapa dalam panggilan pemilik nama yang kami panggil kesayangan,"Kemudian berlariku." Hampir...

Temu pandang di udara untuk bertukar sapa dalam panggilan pemilik nama yang kami panggil kesayangan,"Kemudian berlariku."

Hampir dua bulan tak ada dirimu, tak ada pertemuan, suara, sapa, apalagi tawamu.
Hari ini, semua seolah dibayar lunas oleh Sang Kuasa, kita bertemu dan kau menyapaku.

Lagi-lagi aku takjub akan skenario-Nya.

Laki-laki bertopi hitam di bawah payung teduh, bercengkrama dengan kawannya dan semua terjadi begitu aku tak sengaja melewati keberadaannya.

Aku mencoba celingukan, seolah kepalaku ada yang memutar. "Hoi Din" Catch you!
Tak salah lagi, itu pasti dirimu.
Satu diantara puluhan temanku hanya kamu yang memanggilku dengan caramu.
Ku anggap itu pembeda dirimu dengan hal lain yang biasa aku temui.
Ya, kamu memang berbeda.

Aku membalas sapa itu, bahkan semilir angin tak urung mengecilkan volume suaraku untuk membalas sapa yang ku anggap kerinduan dalam hatiku.
Kasihan, walau hati mungkin bahagia namun separuh dari diriku seolah tak ingin berdiri berlama-lama dihadapanmu.
Aku lari, semampuku.
Mencoba menghilang dengan cepat dari jangkauan matamu.
Aku malu.

Kabar itu, kabar yang selama ini membuat hatiku sebenarnya yakin, bahwa kau belum kemana-mana.
Ternyata benar, aku bukanlah tiga diantara dua.
Di sisi satu aku bahagia, tak berharap dengan pria wanita lain.
Tapi di sisi dua aku pun dapat merasakan sesak yang sedang mengikatmu.
Aku memang tak juga ingin percaya diri bahwa ketika dia tidak memilihmu, lantas akan ada aku dipikiranmu.
Tapi ya, aku akan selalu bersedia ada di sana kapanpun kau memintanya untuk membagi kesedihan yang kau alami.

Dalam mimpiku semalam aku mendapati dirimu berkata "Aku mulai menyukaimu."
Entah apa rasanya jika ini ternyata bukan mimpi, namun ku tahu itu tetaplah mimpi hingga hari ini.

Aku tidak mau berharap lebih, tapi jika aku harus menjawab pertanyaan "Oleh siapa hatimu dipenuhi?" tentulah jawabanku dirimu.

You Might Also Like

0 komentar