Nostalgia Hujan dan Bangku di Depan Tata Usaha

Seingatku, hari itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sekolah kami mulai sepi, siswa yang tak lagi ada urusan di Tata Usaha sudah pulang ke r...

Seingatku, hari itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sekolah kami mulai sepi, siswa yang tak lagi ada urusan di Tata Usaha sudah pulang ke rumahnya sedari tadi.


Koridor lantai satu hanya ada aku, dia dan satu temanku yang menunggu dijemput orang tuanya. Sesekali, Bapak penjaga dan satu dua guru sekolah kami berlalu di hadapan kami.

Ketika kami rasa yang harus diselesaikan hari itu sudah beres, kami juga ingin pulang segera melempar diri di kasur. Langit tak setuju rupanya, kami urungkan niat ketika rintik hujan mulai mengguyur cepat tanaman di halaman sekolah. 

Aku lelah, ingin pulang, hanya bisa bergumam "Kapan kita pulang?", dan ada dia yang dengan sabar mengatakan "Kita tunggu saja."

Hingga saatnya teman ku meninggalkan kursi ini duluan, Bapak penjaga tak lagi terlihat, dan guru kami sudah pulang. Masih ada aku dan dia yang setia menunggu kapan awan membiarkan kami melihatnya berhenti menangis.

Makin lelah, hari mulai sore, aku mendapati diriku dibahunya. Saat itu yang aku tahu hanya ada bahu seorang pria di sisi kanan yang dapat menopang kelelahanku. Aku menutup mataku, berharap ketika membukanya hujan telah berakhir. Di sela-sela aku menunggu, aku merasa tenang dibahunya, dibahu yang bisa saja dua atau tiga tahun nanti bukanlah lagi tempatku bersandar.

Ini bukan tentang rindu, tapi ini tentang hujan yang menjadi saksi kedekatan kami.

Saat itu, hujan tak urung berhenti, hari mulai gelap, "Belum pulang?" kata Bapak penjaga yang kini lewat lagi. "Belum Pak." kata kami wajah lesu. "Wah keburu malam ini, nanti hujannya malah makin deras, itu cowoknya payungin ceweknya dong." Kami bertatapan, kemudian tertawa kecil.

"Kamu mau pulang?" tanyanya.
Aku mengangguk lalu nenunduk "Tapi kan masih hujan?"
"Pakai jaketku, mau?" katanya.
Aku melihatnya, lalu aku melihat daun-daun di hadapanku makin kuyup. Pikirku kalau aku nekat, mungkin aku bisa seperti daun itu, dan dia seperti daun yang disebelahnya.
"Iya aku mau." pilihan terakhir daripada terus menunggu hujan yang belum ingin sudah.

Dia mengantarku pulang, di jalan kami kuyup dengan 'payung' seadanya. 
Bukan hanya bahunya yang selalu siap menjadi tempatku bersandar, tapi keseluruhan dirinya selalu siap menjagaku tetap baik-baik saja.

Hujan, dia, dan sekolah kami.

Cerita ini dua tahun lalu, benar saja bukan? Kini bahu tempat aku bersandar, tidak lagi ada di sisiku. Kini, ketika hujan datang dan mengingatkan kedekatan kami, aku tanpa dirinya, tanpa jaketnya, tanpa bahunya.

You Might Also Like

0 komentar