Salam ke Hujan di Jendela

Entah kebodohan versi apa namanya, saat kau hanya bergurau mengirim salam untuk seseorang, lalu kau mendapati orang tersebut telah menerima ...

Entah kebodohan versi apa namanya, saat kau hanya bergurau mengirim salam untuk seseorang, lalu kau mendapati orang tersebut telah menerima salammu. Waalaikum.

Mungkin kegilaanku sudah bertambah parah, entah jatuh cinta yang tak memiliki obat atau aku yang tak mahir mengobati diri?

Hari ini, Stasiun Pondok Cina.
Guntur sudah menyapa atap tempat aku duduk, namun hujan belum ingin menyapa Depok.
Sama halnya dengan perasaan ini, signal ku mungkin sudah menyapa katup hatinya, mungkin sama seperti hujan, belum ingin jatuh untuk membasahi hati yang kerontang.

Hari ini aku melihatmu, bergerombol duduk di selasar kampus. Hari ini aku tak melihatmu secara gamblang, ada jendela yang memisahkan kita. Untunglah jendela itu tak tembus pandang dari luar, kalau tidak, mungkin aku tidak bisa melihatmu berlama-lama, atau mungkin saja kau yang lekas beranjak dari singgahsanamu. Kita tetap si pemalu, bukan?

Dosenku mengakhiri kelasnya, ku buang pandanganku dari daun jendela.
Saat Dosen ku telah selesai menyampaikan sesuatu hal, aku kembali (ingin) melihat jendela.
Nyatanya, kali ini kamu sudah (benar-benar) tidak di sana.
Tidak ada segerombolan, tidak ada si baju kotak-kotak.

Ini bukan halusinasi jatuh cinta,
Ini pepatah lama yang mengatakan pucuk dicinta ulam pun tiba.
Ini bukan halusinasi jatuh cinta,
Karena teman disampingku juga melihatnya, melihat si rambut cepak pencuri hatiku.

"Ya Allah, jika memang Engkau menjodohkan kami, dekatkanlah kami selalu. Jika memang tidak, tak mengapa, aku ikhlas Kau pertebal dinding besar diantara kami agar tak akan pernah kami bertatap wajah."

You Might Also Like

0 komentar