Tentang Pria yang ku kagumi, aku mengagumimu

Hari ini, Allah memberiku langkah untuk melewati punggungnya. Aku tak melihatnya, namun teman-temanku bersih keras mengatakan "Kiri!&...

Hari ini, Allah memberiku langkah untuk melewati punggungnya.

Aku tak melihatnya, namun teman-temanku bersih keras mengatakan "Kiri!"
Ya, sepertinya aku memang tak jeli melihatmu dengan mataku.

Satu, dua, tiga minggu berlalu.
Koreksi, mungkin sudah satu bulan lebih aku tidak melihat wajahmu.
Umm maksudku melihat wajahmu dengan mata tanpa pembatas.

Akhirnya setelah rindu menumpuk,
tumpah ruah bahagia yang aku tutup rapat
ada kamu lagi di sana, Hai...
tidak, aku tidak menyapanya, itu hanya jeritan hatiku saja

Pria, ku harap akan ada dirimu lagi di sana
memberi senyum atau setidaknya lihatlah aku degan bola mata yang penuh
aku tak minta senyummu, tapi kalau kau layangkan, aku berterimakasih
terimakasih untuk telah menghargai keberadaanku, dan terimakasih,
aku suka senyummu.

Aku memiliki banyak kata untukmu, kini mungkin sudah jadi cerita panjang dalam satu tahun
aku mau membaginya, tapi terlalu bodoh untuk menemukan caranya
makin kesini, ada saja sikapmu yang menyakitiku,
aku tidak tahu itu memang begitu, atau memang tanda kalau kau tidak membolehkan aku melangkah lebih dekat,
sudah ku bilang, aku terlalu bodoh untuk bisa memahami semua yang ada di kepalamu,
terlebih tentangku

Harap demi harap
terajut menjadi kelambu,
kadang hatiku hangat dibuatnya,
kadang karena itu juga aku merasa terkurung

Bisakah ada satu waktu di mana aku bisa menceritakannya
mengatakan hal yang setidaknya membuat kelambu ini tidak semakin tebal dan membuatku terkurung
kamu itu, satu
satu yang ingin ku sampaikan kalau satu-satunya nama yang ku panggil adalah kamu
kamu itu dua,
dua bola mata indah yang tak kudapati keteduhannya sebelumnya
kamu itu tiga,
tiga akan terganti. (baca: Tidak)

You Might Also Like

0 komentar