Apa yang Salah jika Menyukai Lebih Dulu?

Deru ombak kini tak lagi terdengar, Semuanya terasa begitu sunyi, Pun pada relung yang sebenarnya tak pernah sedikitpun dipedulikan ...

Deru ombak kini tak lagi terdengar,
Semuanya terasa begitu sunyi,
Pun pada relung yang sebenarnya tak pernah sedikitpun dipedulikan

Memang, kini semuanya diam,
Memperhatikanku bagai tawanan yang melarikan diri,
Sedosa itukah jika aku yang menyukaimu lebih dulu?

Similir angin yang membelai,
Tak lagi bisa se-sejuk hari di mana aku tak mengenalmu,
Kini, rasanya hanya udara tak enak yang selalu mencekik dan seolah mengolok,
Lalu, apa yang salah jika Hawa yang lebih dulu menyukai Adam?

Aku tahu terkadang ini terlalu bodoh untuk dijelaskan,
Dikatakan,
Atau sekedar dituliskan,
Walau malam tak selalu membuatku teduh,
Hanya karena teringat wajahmu yang esok hari pastilah tanpa senyum,
Tetapi selalu ada pagi yang membantuku menerbitkan semangat bahwa tak ada yang salah dari diriku

Kini semuanya bertanya,
Membuka mulut lebarnya dan sebenarnya hanya hirau pada rasa keingin tahuannya,
Semuanya bertanya, dari mana dan kapan,
Lantas, apakah selalu ada alasan untuk penjabaran dari kata menyukai?

Senyumnya manis,
Walau tak pernah lagi semanis teh sore hari yang ku seruput kala hujan,
Atau, hawa dingin dari hatinya mungkin sudah menusuk rusukku,
Atau mungkin lambungku...
Hingga teh manis, kini tak lagi manis,
Malah, rasanya seperti teh yang ku biarkan menghitam, pekat dan kemudian pahit,
Kamu berubah...

Kala malam selalu datang dengan beribu tanya,
Lantas hanya ada aku yang terpojok untuk sekedar berpikir
Se-hina itukah jika makhluk venus ini menyukai manusia mars?
Mengapa sanksi itu hanya untuk kami?
Apa yang salah dengan perasaan yang Tuhan berikan kepada kami?
Apakah perasaan itu berbeda dengan perasaan yang kamu miliki terhadap wanita lain hanya karena kita berbeda wujud?
Sampai di mana akan ada kesenjangan untuk kata menyukai terlebih dahulu?
Wanita dan laki-laki,
Lantas, ketika kami berkata kami menyukaimu, kamu tak hirau...
Atau,
Berpura-pura hirau dengan mengatakan terimakasih
Lalu ketika bertemu tak ada lemparan senyum... darimu....
Tapi tak apa, untungnya Tuhan sudah memberikan bahan balutan yang lebih tebal untuk hati kami,
Kami sudah cukup terbiasa akan ini...

Dunia tertawa, Aku tahu itu
Tetapi, apakah saat Dunia tertawa mereka sempat memikirkan bagaimana rasanya menanggung rasa yang tak terbalas? Yang tak terjawab? Yang tak pernah dihiraukan?
Tak  dihiraukan itu memang tidak seperti teriris bongkahan beling,
Tetapi perihnya sama...
Dan mencintai lebih dulu itu, kau tahu rasanya seperti apa?
Dua kali lipat dari perih karena teriris, rasanya jauh lebih sakit.

Ketika menyukai hanya sebatas menyukai tanpa kata saling,
Maka wajah sinis itu tidak akan pernah berubah menjadi sapa lembut manis.

You Might Also Like

0 komentar