[IDVolunteering] Sang Motivator itu, Malaikat Tak Bersayap

Pada 3 Juni 2015 kemarin, saya dan dua teman saya (Anastasya dan Shabrina), menjadi relawan di Ronald Mcdonald House Charities, Family ...

Pada 3 Juni 2015 kemarin, saya dan dua teman saya (Anastasya dan Shabrina), menjadi relawan di Ronald Mcdonald House Charities, Family Room, yang berada di Departemen Radioterapi RSUPN Cipto Mangunkusumo. Hari itu, selepas jam makan siang, suasananya cukup ramai, ada sekitar sepuluh anak dan beberapa orang tua yang menemani anaknya bermain, di ruangan yang tidak begitu lebar. Sebelum masuk dan bermain, pengunjung telah di sediakan sabun cuci tangan di dekat pintu. Yap! Family Room ini memang sangat mengutamakan kebersihan.

Saat itu, kegiatan kerelawanan yang dilakukan adalah membantu Kak Nuning menemani anak–anak yang datang untuk bermain. Kak Nuning adalah seseorang yang menjaga di sini, pula ia pribadi yang sangat ramah. Tiap beberapa jam, ada anak yang pulang dan ada yang baru datang. Ada yang menunggu antrian untuk melakukan check-up, menunggu hasil laboratoriumnya, berkunjung untuk melepaskan suntuk di kamar, hingga ada pula yang memang sudah selesai dari dokter, namun sekedar ingin singgah di tempat Kak Nuning.
Kegiatan Favorite adik-adik di Family Room sepertinya adalah mewarnai, semua anak-anak di ruangan yang hadir saat itu, pasti meminta Kak Nuning membuatkan gambarnya. Bahkan, beberapa anak justru sudah mengetahui bagaimana cara mewarnainya, memahami harus setebal apa tinta yang ditumpahkan ke gambar,  juga mengatahui sebelum tintanya ditutup harus dibersihkan dulu dengan tissue. Pintar, bukan?

Saat itu ada seorang anak yang kami hampiri, ketika kami mengajaknya bercengkrama, ia menaikkan lengan bajunya dan memperlihatkan bekas suntikan di tangannya. Ternyata, bukan untuk mengadu akan rasa sakit, melainkan untuk sekedar bercerita tentang apa yang saat itu ada di lengannya. Kira-kira, anak ini berusia 5 tahun. Lalu, tanpa rasa cemas, ia berkata kepada kami, “Kakak, besok tulang sumsum Aku mau diambil sedikit sama dokter, diambilnya cuma sedikit.” 
Saya tidak ingat betul penyakit apa yang ia idap. Tapi, saya masih ingat saat dia duduk di lantai, lalu menaikkan tangannya kepada saya untuk meminta berdiri, saya meraih tangannya. Ketika sudah memastikan dirinya berdiri, saya tersontak dalam hati, karena ternyata ia seperti tidak bisa berdiri tegap. Jika tangan kami tak bepegangan, anak ini seperti tidak memiliki tumpuan. Saya lihat kakinya, dan di situ saya baru tahu kalau kaki anak ini tidak lagi sempurna. Sedari saya datang, saya memang hanya melihatnya duduk. Ternyata ketika ia berpindah, ia berjalan dengan merangkak. Sungguh, benar-benar hari itu rasa takjub saya ditumbuhkan oleh seorang anak kecil.
Anak ini mengajarkan bahwa apa yang terjadi kepada kita saat ini, bukanlah sebuah hukuman, ataupun hal memalukan yang harus disembunyikan.
Masih sama, agenda kami hari itu menemani anak – anak hebat ini bermain. Ada yang asyik mewarnai, bermain games di komputer, dan juga ada yang sedang asyik bermain Lego, namanya Rado. Umurnya sekitar 3-4 tahun. Saat dia sedang asyik membangun rumah dengan Lego, saya hampiri dia. Saya bantu pasangkan pintu dan bermain dengan berpura-pura mengetuk pintu, “Permisi, Radonya ada?” diapun mulai tertawa. Dan sejak itu, Saya dan Rado bermain bersama.
Hingga saat Rado asyik sendiri, saya mulai menghampiri anak lain untuk juga menemaninya bermain. Tiba-tiba, Rado datang dan menarik tangan saya untuk kembali ke meja di mana Lego masih berantarakan. It’s kinda cute! Ternyata dirinya senang bermain dengan saya, hingga tidak ingin saya pergi. Lalu, dia mulai bosan bermain Lego dan ingin mewarnai gambar. Sembari Kak Nuning membuatkan gambar untuk Rado, ia mengajak untuk dibacakan cerita upin dan ipin, yang saat itu bukunya ada di tumpukan rak buku dongeng anak. “Aku unya filmnya” kata Rado.

Setelah gambar yang dibuatkan oleh Kak Nuning selesai, Rado mengajak untuk mewarnai bersama. Dirinya yang mengambilkan warna, dan saya yang mewarnai gambarnya. Sayangnya, Rado cepat merasa bosan, padahal, gambar belum selesai di warnai, ia sudah mengajak bermain Puzzle. Saat itu, Nenek Rado sempat sedikit bercerita bahwa penyakit Rado ini bermula dari tahun lalu. Belum selesai bercerita, Rado seketika membungkam mulut Neneknya dengan tangannya yang mungil. Nenek Rado yang seakan mengerti maksud Rado, membalas dengan “Oh enggak boleh diceritain ya ke Tante? Maafin Nenek yaa”. Dan saya makin gemas dengan anak ini.

Kini, Puzzle pun kembali tidak kami rampungkan. Namun, kali ini bukan karena Rado ingin bermain yang lain, melainkan Ibunya sudah datang untuk menjemputnya pulang. Ketika Ibunya mengajak pulang, Rado menangis. Merengek belum ingin pulang. Ketika hendak digendong, Rado pun memberontak. Tetapi, karena hari juga sudah sore dan Rado perlu istirahat, Ibunya pun langsung berpamitan dengan Kak Nuning. Nenek Rado juga berpamitan, dan mengambil kaus kaki Rado yang sempat ia lempar karena kesal belum ingin pulang.
(Saya, Kak Nuning, Shabrina, & Anastasya)
Sungguh hari itu adalah hari yang berarti untuk saya, tidak hanya sekedar berbagi kebahagiaan dalam kerelawanan. Tetapi, saya juga mendapat pelajaran akan arti dari sebuah semangat. Bukan dari seorang motivator, melainkan dari adik-adik yang luar biasa di Family Room siang itu. Dan hingga saat di mana saya sedang menulis tulisan ini, saya masih merindukan Rado. “Cepat Sembuh Rado, semoga nanti kita bisa bertemu lagi...”

You Might Also Like

15 komentar

  1. Saya percaya bahwa hal sekecil apapun sangat berarti untuk mereka :) tidak susah membuat org lain tersenyum asalkan kita mau membaginya :)

    BalasHapus
  2. Ternyata, pelajaran hidup bisa kita dapatkan dari siapa. Bukan hanya dari motivator yang memiliki banyak pengalaman. Namun, anak kecil juga dapat memberikan pelajaran hidup kepada kita.

    BalasHapus
  3. Wow! Menyentuh Di, gue juga pernah ke RMHC tapi yg di Fatmawati. Usia mereka yg masih kecil bukan berarti semangat mereka juga kecil. Justru, mereka berhati besar. Salut banget sama adik-adik kecilnya. Tetap menebar semangat kerelawanan ya Di!!

    BalasHapus
  4. Aku jadi inget tahun lalu waktu aku masih coass & lagi di bagian anak, ada anak 10 tahun mengidap leukemia namanya Mathias. Tapi sehari-harinya anak itu tetep ceria dan seneng belajar. Kalau aku udah mulai ngerasa capek & mau mengeluh aku selalu inget dia. Anak sekecil itu aja mau berjuang melawan penyakitnya, aku yg masalahnya gak seberapa masa mau nyerah sih. Hehehe. Semangat di! Tulisannya inspiring sekali šŸ˜‰ (Amanda)

    BalasHapus
  5. Such a great experience that you must do in your life!

    BalasHapus
  6. Gue juga pernah volunteering di RMCH dan sepulang dari situ dapet banyak banget energi positif seperti lebih bersemangat untuk menjalani hidup. (Ya iya dong, gue ga mau kalah sama adik2 yg walaupun sakit tapi tetep ceria!) hehehe šŸ˜‚

    BalasHapus
  7. Karena manusia yg paling baik adalah manusia yg bermanfaat bagi orang lain šŸ˜Š

    BalasHapus
  8. Very touching! Salut sama adik-adik kecilnya. Terus menebar semangat kerelawanan ya, Di!! :')

    BalasHapus
  9. Bagus diiii tulisanmu sangat menginspirasi:") pengen ikut volunteering jadinyaa^^

    BalasHapus
  10. Wow kerennn Didi... Tulisannya bagus ;) Pengalaman yg menyenangkan yaaa..
    Anak kecil itu sumber pembelajaran yang luar biasa.. Kita bisa belajar banyak hal ttg kehidupan lewat mereka.. si penyejuk hati dan pelipur lara.. Semangat menebar kebaiiiikannnnn.. (kak Ir)

    BalasHapus
  11. keren dii! sangat menginspirasi banyak orang, terus tularkan semangat kerelawananmu yaaaaa :)

    BalasHapus
  12. Jadi pengen ikut volunteering jg deh :")
    Btw, tulisannya bagus bgt di!! Semoga bisa jd inspirasi buat semua orang yg baca :)

    BalasHapus
  13. Biarpun masih kecil semangat mereka besar, belum tentu kita bisa kuat kayak mereka loh, waktu seumur mereka daa aku mah masih sering ngerengek nyokap :') Pengalaman yang berharga bgt diii jadi pengen ikutan maen sama adek2 deeeh

    BalasHapus