Yendri Luna di Rintik Jakarta Pusat

Handphone Luna sore itu berdering. Bulir air hujan sudah memenuhi kaca jendela kamar yang di dominasi warna hitam dan putih. Luna baru saj...

Handphone Luna sore itu berdering. Bulir air hujan sudah memenuhi kaca jendela kamar yang di dominasi warna hitam dan putih. Luna baru saja sampai rumah. Penat dengan segala tugas dan kegiatan kampus. Ojek online yang dipesannya pun hari itu sulit mendapatkan driver. Memang, sore adalah waktu yang sangat melelahkan di hari kerja. Luna merogoh ponselnya di dalam tas.

“Hallo” Sapa seseorang dari seberang,

“Kenapa?” Jawab Luna dengan nada ketus,

“Aku minta maaf”
Luna diam, tiba-tiba menyeka air mata yang hampir jatuh setelah mendengar suara yang tak ia dengar hampir 3 hari.

“Aku di depan” kata orang itu lagi,
Luna membuka gordennya sedikit untuk mengintip, berharap Yendri kekasihnya, tak melihat.

“Aku ngantuk...” seru Luna

“Aku kangen” jawab Yendri memotong

Luna menutup telphone seketika. Merebahkan diri di bantal dan mengira-ngira kenapa Yendri masih berani menghubunginya. Yendri menyanyangi Luna, seperti halnya Luna sangat menyanyangi Hendri. Bahkan, perasaan cinta yang mereka berdua rasakan, dapat membuat pasangan ini terkenal di kampus dengan sebutan best couple. Tetapi itu dulu, jauh sebelum Luna tahu bahwa keluarga Yendri ternyata memutuskan untuk memisahkan anaknya berhubungan dengannya. Kedua orang tua Yendri ternyata tidak pernah setuju anak-anaknya memiliki hubungan khusus dengan seseorang di luar suku mereka. Selama satu tahun, Yendri memang belum pernah mengajak Luna ke rumahnya. Menutupi, kalau-kalau Luna ditanya tentang dari suku mana ia berasal. Orang tua Yendri memang masih sangat mempedulikan adat dan istiadat. Sehingga hal seperti ini, mereka mewanti-wanti anaknya untuk jangan memulai. Tetapi sepertinya tidak mempan untuk Yendri. Hati Luna sudah terlanjur membuat Yendri lupa akan apa yang dibilang orang tuanya. Meskipun, Luna juga tidak pernah menuntut banyak. Luna dan Yendri memang selalu berusaha untuk saling memahami satu sama lain. Tak ada satupun dari mereka yang meminta sesuatu yang membuat satu sama lain bertengkar, ataupun satu sama lain tak mampu menyanggupi. Kecuali satu hal, permintaan yang datangnya dari orang tua Yendri, mereka harus putus.

Hujan kini di intensitas yang sedang, hanya gerimis kecil yang mulai lesu membasahi langit Jakarta Pusat saat itu. Suara ketuk pintu terdengar jelas oleh Luna yang kamarnya tepat disamping pintu utama.

“Assalamualaikum...”

Waalaikum salam, batu kamu Yen.  Kata Luna menjawab dalam hati.

“Waalaikum salam” terdengar suara Mamah Luna dari ruang tengah hendak membukakan pintu.

“Assalamualaikum Tante” dengan senyum manis Yendri menyapa Mamah Luna dan meraih tangan untuk menunjukkan rasa hormat.

“Waalaikum salam Nak Yen, kok hujan-hujanan?” Tanya Mamah Luna yang saat itu mengenakan gamis biru dongker.

“Enggak apa Tante, demi Luna hujan mah aku lawan”

“Gimana Nak?” tanya Mamah Luna memastikan,

“Eh ee... enggak Tante, hehe. Lunanya ada?” jawab Yendri canggung.

Lho? Memangnya kamu enggak bareng? Baru saja, lima menit lalu sampai rumah, Tante kira tadi kamu yang antar”

“Ee..eeng... ee.. iya Tan, tapi tadi buku Luna ketinggalan di tas saya, ini mau saya kembalikan”

“Oh begitu, yasudah Nak Yendri tunggu sebentar, Tante panggilkan dulu...”

“Iya Tante” Kata Yendri yang saat itu langsung berbalik dan duduk di kursi teras rumah Luna.
Sementara di kamar, Luna cepat-cepat memeluk guling dan memejamkan mata, persis seperti orang yang tertidur meski pura-pura. Suara ketuk kamar Luna terderngar, disusul dengan panggilan,

“Luna?”
Luna diam. Sudah mengetahui tentu Mamahnya memanggil karena ada Yendri di luar. Setelah menunggu beberapa detik dan dan tak ada jawaban dari anaknya, Mamah Luna mencoba membuka pintu dan masuk.

“Luna? Kamu tidur Nak?” Mamah Luna mendekati anaknya dan duduk di pinggir kasur. Membelai rambut anak semata wayangnya.

“Nak, ada Yendri di luar” ucap Mamah Luna dengan nada lembut

“Mmmm...,” Luna malah berpura-pura ngulet. “ngantuk Mah...” dan kembali memejamkan matanya.

“Yaudah kamu istirahat, nanti jangan lupa keluar makan, udah Mamah siapin di meja” Mamah Luna ke luar dan menuju teras.

Sebelum keluar dan menutup pintu,
“Pura-pura tidur jangan sampai bikin nyesel lho, Nak. Mamah enggak terima curhat yah malam ini...” ucap Mamah Luna yang saat itu tahu sebenarnya Luna hanya ingin menghindar dari Yendri.
Di teras, Yendri terpaku melihat satu persatu rintik menyentuh pekarangan rumah Luna. Dirinya yakin jika Mamah Luna keluar tentulah tidak bersama anaknya. Pasti Luna sudah terlalu marah. Hanya kalimat itu yang mematung di kepala Yendri. Ketika Mamah Luna keluar, benar saja apa yang dia pikirkan. Luna tak kelihatan batang hidungnya.

“Nak Yendri, Lunanya tidur, sepertinya sudah lelah sekali, tidak apa ya?” tegur Mamah Luna yang seketika membuyarkan lamunan Yendri yang sedang berandai-andai mempersiapkan kata apa jika bertemu Luna saat itu.

“Eee... i..iy..iyaudah, enggak apa deh Tan, saya pulang saja kalau gitu” jawab Yendri sambil menghela napas, dan kemudian berpamitan dengan Mamah Luna.

“Iya Nak, hati-hati” jawab Mamah Luna yang saat itu melihat Yendri mulai berjalan menuju motornya.

Sementara di kamar, Luna tahu Yendri pasti langsung pulang. Luna mengintip lagi dari balik gorden, tertegun memandang punggung laki-laki yang membuatnya begitu jatuh cinta selama dua tahun. Ketika Yendri berada di atas motornya, Yendri mengeluarkan handphone lagi. Luna langsung mengambil handphone yang berada di bawah bantalnya. Berharap yang dihubungi Yendri saat itu adalah dirinya. Sedetik kemudian, benar saja, ada pesan masuk dari Yendri.

Luna sayang, sumpah aku minta maaf. Aku enggak maksud bohong. Maaf.

Pesan singkat yang begitu singkat itu diterima Luna dengan rasa yang teramat sesak. Rasanya tidak pernah bisa ia membenci pujaan hati yang selalu membuat hari-harinya tersenyum. Yendri memang baik, menghargai Luna sebagaimana ia menghargai Ibunya, dan menyangi Luna sebagaimana ia menyayangi adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Luna tak pernah bisa marah. Luna bukan tipe pemarah, apalagi pencemburu. Mungkin ini alasan Yendri bisa begitu jatuh cinta dengan gadis yang ia kenal dari masa awal perkuliahan dimulai. Luna tetap Luna. Meski memilih untuk tak melawan apa yang dikatakan orang tua Yendri, tetapi rasa yang telah diberikan kekasihnya sudah begitu terpatri. Ketika suara motor Yendri terdengar. Luna langsung kembali melihat ke luar jendela.

“Jangan pergi!” katanya dari dalam kamar.

Luna langsung menghubungi nomor Yendri dan untungnya Yendri masih sempat mengangkat telphone yang saat itu hanya ia selipkan di kantong celananya.

“Lun?” Yendri dengan cepat mengangkat dan memutar kembali kunci motornya untuk mematikan motornya.

Luna keluar dari kamarnya. Mengambil payung dan menuju ke halaman untuk menghampiri Yendri.

“Batu!” teriak Luna kepada Yendri
Dari atas motornya Yendri hanya tersenyum tipis, membuat kedua matanya terlihat dua kali menjadi lebih sipit.

“Kan udah aku bilang, aku enggak mau ngelawan orang tua kamu” Kata Luna yang saat itu sudah berada di depan Yendri sambil memegang payung.

“Aku kehujanan nih, kamu enggak mau payungin aku juga?” rayu Yendri yang mecoba mengalihkan pembicaraan Luna.

Luna mendekat satu langkah. Membuat mereka berdua kini sudah berada di dalam payung yang sama.

“Katanya ada yang ngatuk, tapi waktu aku pergi keluar juga orangnya, tahu gitu, aku pergi dari tadi aja ya.” ledek Yendri kepada Luna.

Luna tersenyum, memandang kedua mata laki-laki menyebalkan yang tak pernah bisa membuatnya marah jika bertemu. Dari teras, Mamah Luna memanggil...

“Nak, hujan...”
Yendri dan Luna melihat ke arah teras rumah Luna, dan kemudian saling menatap untuk tertawa kecil.

“Iya Mah...” Jawab Luna dengan nada pelan

“Masuk sini, ajak Yendri, jangan iya iya aja” tegur Mamah Luna yang saat itu bingung kenapa pintu rumahnya terbuka. Sekaligus, bingung, anaknya yang tadi begitu terlihat lelah, kini amat sehat berdiri di hadapan Yendri.

“Dasar anak..jaman sekarang..” dumel Mamah Luna sambil menggeleng dan tersenyum tipis.

Luna mengajak Yendri masuk ke rumahnya. Ruang tengah Luna saat itu terasa dua kali lipat lebih hangat dengan tersedianya secangkir teh hangat yang telah dibuatkan Mamah Luna. Meski cuaca di luar masih tidak mendukung akan mengajak Luna pergi untuk menjelaskan masalah mereka, sedang jok motor pun makin basah oleh bulir hujan, Yendri tetap senang karena dirinya masih bisa bertemu Luna setelah pertengkarannya tiga hari yang lalu.

“Jadi, kita enggak jadi putus kan?” ucap Yendri memecah suasana yang sedari Mamah Luna masuk ke arah dapur suasana terasa kikuk dan hening.

Terdengar suara serak yang dibuat-buat seperti hendak meledek. Tentulah itu Mamah Luna yang ternyata mendengar pertanyaan Yendri kepada anaknya, dari bilik pintu yang misahkan ruang tengah dan dapur. Mendengar pertanyaan Yendri, dan ledekan Mamahnya, Luna hanya tertawa kecil menatap Yendri, dan kembali menyeruput teh yang saat itu di kedua genggamannya.


Di setiap hujan memang selalu ada kenangan yang bisa kita kenang. Jika kau belum memiliki kenangan apapun dengan hujan. Buatlah. Buatlah kenangan apapun yang hendak kau buat, agar ketika nantinya hujan datang lagi, kau bisa menikmatinya sebagai anugerah, merasakan hujan sebagai hal yang membuatmu tersenyum, ataupun menangis, dan bukan sebagai bencana.  Sehingga emosimu, dapat ikut meresap di celah-celah tanah yang akan menghantarkanmu nantinya.

You Might Also Like

0 komentar