Gara Gara Tiga Perkara

Ketika diri kita sendiri pun sulit menerjemahkan perasaan yang dirasakan, gulana. Perasaan yang membuat kita bahkan tidak tahu bagaimana men...

Ketika diri kita sendiri pun sulit menerjemahkan perasaan yang dirasakan, gulana. Perasaan yang membuat kita bahkan tidak tahu bagaimana menanganinya. Mengendap di kepala seperti seorang terdakwa yang menyimpan perasaan bersalah begitu besar. Di satu sisi kita tahu semuanya tidak mungkin untuk dikatakan, di sisi lain kita juga sadar bahwa kejujuran itu memang lebih baik dari apa pun.


Sesungguhnya aku belum siap bila harus kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan untuk tidak merasa sendirian. Tapi aku juga tidak mau egois dengan mengatakan aku menjaga dia agar tidak pergi hanya karena agar aku tidak merasa sepi tak berteman.

Lima bulan memang singkat. Tapi untuk sebuah pertemanan dan gelak tawa hingga dini hari rasanya itu sudah terlampau banyak untuk menjadi kenangan agar tidak merelakan kamu pergi. Aku ingat, aku pun sudah janji pada diriku sendiri, tidak mau ada perasaan apa-apa, toh dirimu pun juga sudah mengatakan tak bisa bersama lebih dari ini. Tapi aku lupa, apakah kita sudah ada perjanjian akan ini waktu itu?

Lima bulan dan kamu menanyakannya. Menanyakan tentang perasaanku selama ini. Pertanyaan yang aku bahkan belum sempat merangkai jawabannya. Kamu yang memulai ketika aku mencoba menutupnya rapat. Kamu bergurau akan apa yang seharusnya tidak kamu katakan. Kenapa bisa-bisanya kamu mengatakan I LOVE YOU, kata asing yang bahkan terlalu asing untuk bisa kamu pertanggung jawabkan untuk dijelaskan. Bahkan kepada dirimu sendiri tentang tiga perkara itu, AKU CINTA dan KAMU.

Perasaan seperti ini terakhir kali aku rasakan empat tahun lalu. Ketika aku berpisah dengan laki-laki yang sudah aku kenal dan sayang betul. Malam ini rasanya masih mirip. Hanya karena kita tidak lagi berbicara dan aku merasa seperti ada kebahagiaan yang tiba-tiba pergi, meninggalkanku sendiri dengan ribuan pertanyaan tentang apa dan bagaimana harusnya aku berdamai dengan ini semua.

Kalau tidak kamu, tidak pula aku. Bagaimana aku harus jujur atas apa yang aku sendiri takut mengatakannya. Bahkan berkhayal pun aku belum pernah tentang bagaimana jika kita lebih dari teman. Kamu terlalu membuatku nyaman di pelukan pertemanan ini, membuatku bahkan tidak ingin beranjak dari dekapan yang kamu berikan, apalagi terpikirkan harus terlepas dan melangkah ke lingkaran yang lebih sempit untuk sebuah hubungan. Belum. Aku bahkan belum bisa.

Aku tidak pula ingin berasumsi kamu betul-betul memaknai perkataanmu. Aku tidak ingin membuat ini menjadi rumit. Mungkin memang hanya ungkapan biasa saja. Tapi ketika kamu berlagak dengan kebingungan, dengan lidah terbata, kenapa rasanya ini aneh. Ini beda. Terlalu sesak untuk secara gamblang dirasakan oleh hati yang tanpa persiapan apa-apa.

Terkadang kalimat I LOVE YOU bisa seperti peluru yang sudah terlanjur masuk ke tubuh manusia. Pilihannya dua, segera dikeluarkan agar tidak membuat kita mati, atau kita akan mati di tempat. Entah apa kita masih memiliki waktu untuk mengeluarkan ‘peluru’ yang sama-sama kita rasakan sebelum perasaan ini benar-benar mati di dalam sana atau ini semua justru menjadi awal kebungkaman dari percakapan kita untuk selamanya.

Kehilangan memang terkadang menjadi pengingat kalau selama ini ada kehadiran yang tanpa kita sadari sudah sangat begitu berarti.

You Might Also Like

0 komentar