Keinginan dalam Ketidakmungkinan

Meski sudah berusaha melupakan, hadirnya di beberapa hari lalu sontak membuatku ingin mengucap Rindu. Akan selalu ada banyak alasan kena...

Meski sudah berusaha melupakan, hadirnya di beberapa hari lalu sontak membuatku ingin mengucap Rindu.

Akan selalu ada banyak alasan kenapa jatuh cinta itu menyenangkan. Meski kali ini, untukku adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang membuatku ingin terus menggenggam kedekatan kami, tapi di sisi lain aku harus melupakan dan menutup setiap celah katup yang terbuka entah tentang memikirnya ataupun tentang merindukannya.

Laki-laki yang aku tidak kenal betul, tapi sudah betul-betul membuat tenda untuknya dirinya sendiri bernaung di ruang hati. Memang, aku agak sedikit takut untuk bilang ketertarikan ini akan ku bolehkan melebur untuknya dan menjadi kedekatan yang biasa disapa “KITA” dan aku juga ragu apakah dia memang orang baik dalam tanda kutip baik bagi sebuah kedekatan atau bukan.

Dia,
Dia membuatku kagum akan semua hal tentang dirinya. Umm… mungkin belum semua karena, seperti yang aku bilang, aku belum mengenal dia lebih jauh, tapi, entahlah setiap pemikirannya, tentang kegemaran yang dia suka, hingga setiap kali dia menginterpretasikan tiap pesan singkat dariku, selalu berhasil membuat lekuk senyum di bibirku. Dia membuatku merasakan lagi apa yang namanya kasmaran setelah empat tahun berlalu tanpa aku ingat percakapan terakhir kali dengan mantan ku yang membuatku betul-betul bahagia. Bahagia sesederhana menunggu tanggapan gombal yang dia lontarkan. Ya, rasanya seperti itu. Dia bahkan membuatku menyukai kata-kata manis setelah sebelumnya menurutku itu terlalu menggelikan.
Satu hal yang membuatku juga ingin membalas kalimat yang sama. Bukan, bukan “I love you too”. Suatu hari di tengah percakapan kami melalui pesan singkat, kudapati dirinya mengetik:


Lo selera gue.


Meski percakapan itu terjadi di malam hari, entah kenapa rasanya seperti ketumpahan sinar matahari, ingin teriak sekencang-kencangnya. Kalau saja, dia tahu aku juga ingin mengatakan dia selera ku. Tapi mungkin tidak perlu dikatakan karena jika berlanjut kami akan terlihat seperti di endors oleh sebuah merek rokok. “Gue punya selera”.

Gombal? Tenang, aku pun menganggap seperti itu. Mana mungkin orang belum mengenal tapi sudah bisa bilang aku seleranya. Tapi setidaknya aku tenang, paling tidak, saat itu aku bukan teman ngobrol yang malesin. Ya, karena dia pun juga menyenangkan walaupun berbicara dengannya lewat sebuah applikasi adalah obrolan terburuk sepanjang masa dengannya. Sungguh datar saja. Dia hanya menanggapi apa yang aku tanyakan. Tidak ada pertanyaan balik. Paling-paling jika sudah garing dan mungkin dia sedang mood, dia datang dengan topik baru. Sungguh menyenangkan yang labil.

Bicara tentang tipe, ya! Akupun tidak tahu ini hanya keegoisan semata atau apa tapi aku jujur mengatakan dia tipeku. Aku suka dengan laki-laki yang bisa menghargai setiap hal apapun, meski hal kecil sekalipun dan itu dia. Dia yang bisa membuatku kagum karena pola pikirnya yang sungguh terbuka. Dia yang bisa membuatku rindu akan sebuah gombalan receh atau ledekan yang hanya bisa tersenyum sendiri tanpa bisa dan ingin diperlihatkan. Dia yang bisa membuatku merasa… dihargai.

Sungguh sebuah takdir bagi kami dipertemukan dengan menganut iman yang berbeda dan dengan suku serta adat saklek yang berbeda. Untuk kali ini, aku ingin bilang kalau aku takut. Aku tidak ingin perasaanku menjadi ke-egoisan untuk melupakan apa yang sebutulnya jangan pernah aku mulai tapi karena keinginanku ingin bersamanya lantas membuyarkan semua. Sulit. Keluarganya pasti tak akan menerimaku, pun sebaliknya. Kami ini di Indonesia, yang menjalin hubungan bukan hanya kami dan tentang kami saja, tapi juga tentang keluarga kami.

Kedekatakan kami memang sempat terputus. Pikirku mungkin dia juga memilih untuk tidak memilih denganku. Tapi setelah seketika dia datang lagi di hari yang tidak aku duga, semuanya luntur. Ada rindu di sana, meski rasanya aku ingin cukup di kata teman saja.

You Might Also Like

0 komentar