Tentang Rindu

Apa yang bisa dilakukan perempuan ketika ia sedang merindukan seseorang? Menelpon? Mengirimkan pesan? Atau menemui orang yang dituju? Aku r...

Apa yang bisa dilakukan perempuan ketika ia sedang merindukan seseorang? Menelpon? Mengirimkan pesan? Atau menemui orang yang dituju? Aku rasa tidak ketiganya. Paling-paling rindu bagi seorang perempuan biasanya hanya berakhir dengan diam tanpa melakukan apa pun.

Sebetulnya apa pula yang membuat kita bisa rindu? Terlebih dengan orang yang tidak memiliki ikatan apa-apa selain “teman” atau mungkin orang yang baru kita temui sebulan yang lalu. Apakah rindu ini bisa menjadi lancang ketika perlahan melebur menjadi harapan bahwa kita ingin yang di sana sedang memikirkan kita juga, atau boleh jadi rindu itu ikhlas, tidak berharap apa-apa. Tidak berharap diingat sepersekian detik sekalipun, tanpa meminta dibebaskan dari mulut, atau dibebaskan dari ketikan jari pada jendela kontak orang yang dituju.

Terkadang bagiku sendiri, rindu itu datang kala aku ditinggalkan selepas dia memberikan semua manisan dunia yang kami bicarakan dan tertawakan bersama dalam waktu yang terhitung lama. Mungkin lebih tepat disebut intens, hingga akhirnya si dia yang aku maksud ini pergi, lenyap begitu saja tanpa menghubungi lagi seolah aku memang tidak sebegitu penting untuk dicari lagi. Biasanya di masa ini aku rindu. Rindu, seseorang yang mengisi hari-hari kini tak datang dalam beberapa hari.

Suatu hari mungkin aku bisa saja menyampaikan rinduku secara implisit, mencoba topik lain berpura-pura menghubungi dengan harapan dia sebahagia itu juga mendapatkan pesanku. Tapi di hari itu pula sepertinya respon yang aku harapkan itu tidak terjadi sebagaimana yang ditunggu. Pria itu sepertinya terlalu sibuk hingga tidak bisa menangkap maksud perasaan ini. Apalagi jika pembicaraan singkat ini berakhir dengan tanpa tanda Read dari dirinya. Terkadang, wanita selalu dituntut untuk bungkam saja menyimpan sendiri.

Satu hari kejadian itu berbalik. Satu bulan setelah tanpa ada percakapan setelahnya. Dia datang. Boleh jadi dia datang karena rindu atau apalah namanya. Datang dan menanyakan kabar. Pernah aku baca dari salah satu ask.fm seseorang tentang cara laki-laki mengungkapkan saat ia rindu adalah menanyakan kabar wanitanya. Setidaknya di titik itu aku bisa senyum sumringah. Aku satukan informasi yang aku punya dengan apa yang terjadi. Wanita, seperti di salah satu novel Ika Natassa mengatakan, semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang. Bukan gampangan dalam hal seks, tapi jadi gampang memaafkan, gampang menerima ajakan, bahkan kadang jadi gampang percaya. Maka itu pula yang aku lakukan untuk membalas pesan singkatnya. Terlalu bahagia untuk mengingat kalau dia pernah melupakan aku dan datang seperti aku baik saja dan memang akan menyambutnya seperti itu.

Terkadang lelah harus berpura-pura menjadi pemain drama untuk bersikap tak ada apa-apa di depan laki-laki yang menurut kita telah meninggalkan sesuatu yang tidak biasa. Ada sebuah siang yang membuat aku jujur mengatakan aku rindu. Lagi-lagi tidak secara tersurat. Aku terlalu malu untuk mengakuinya. Sesederhana itu alasanku. Ada perasaan kurang siap jika memang dia tahu aku merindukannya meski dia membalas pesanku dengan mengetahui maksud ini semua. Ya, jika aku terlalu bodoh untuk menyembunyikan perasaan, dia justru terlalu cerdas untuk bisa membaca aku. Ironi.

Rindu. Kata yang mungkin tidak akan aku berikan untuk menjadi nama anakku nanti. Terlalu menyakitkan, yang aku khawatirkan anakku pun tidak bisa membawa nama ini di hari-harinya yang harusnya bahagia, karena Rindu itu sakit. Rindu itu membuat gila. Rindu itu… menyebalkan! Bahkan ketika kita tahu melihat fotonya saja sudah lebih dari cukup untuk mengobati, terkadang dia meminta lebih, meminta yang lebih dari sekedar potret segi empat yang bisu, rindu meminta cerita. Cerita baru dari suara di seberang sana. Belum lagi ketika rindu menjelma menjadi bulir air mata karena terlalu lama untuk ditahan sendiri dan tidak tahu harus apa. Tidak tahu kalau yang dirindukan mungkin sudah melupakan, menggenggam nama baru di hatinya atau bahkan kemungkinan lain yang lebih menyakitkan untuk sekedar berputar di kepala.

Dilupakan dan ditinggalkan masih tergolong dalam hal menyakitkan, bukan? Jadi bagaimana rindu bisa sekonyong-konyong datang tanpa rasa bersalah meronta untuk diungkapkan. Tidak semudah memasak air ataupun memotong kuku. Rindu itu sulit. Bahkan lebih sulit didefinisikan dari rumus kecepatan sebuah benda dalam ilmu fisika yang bicara tentang jarak dan waktu. Rindu begitu, bisa saja kita tahu berapa lama kita tak saling menyapa, tapi kita tak pernah tahu sudah berapa mil jarak yang kita buat untuk saling menjauh dan bahkan melupakan.

Rindu itu berat, membuat seseorang membisu karena kebingungan dan lara di masa-masa yang terbilang sulit di jalani…

You Might Also Like

0 komentar